Wisata religi di Beijing, China, traveler bisa berkunjung ke masjid yang disebut-sebut telah ada mulai sejak beratus-ratus tahun lantas. Tersebut Masjid Niujie.

Islam dimaksud sudah ada di China mulai sejak kian lebih 1. 400 th. lantas. Layak saja bila Beijing mempunyai masjid yang telah berusia kian lebih 1. 000 th.. Serta tak heran apabila masjidnya memiliki nuansa klenteng, khas bangunan tua China.

Butuh travel malang juanda? silahkan klik tautan ” travel malang juanda “.

Umat muslim adalah minoritas dengan jumlah 23 juta warga atau seputar 1, 7 % dari keseluruhan masyarakat China. Di Beijing sendiri ada seputar 200 ribu jiwa. Dari sebagian masjid yang ada ada satu yang tertua, paling besar serta terindah yaitu Masjid Niujie.

Tahu hal semacam ini saya yang tengah di Beijing tak melupakan untuk mendatanginya. Penasaran seperti apa penampakannya. Kebetulan posisi saya di Temple of Heaven yang jaraknya dekat.

Dengan menumpang bus membawa saya ke halte Niujie Libaisi. Jalan diatas trotoar jalan Niujie melalui berbagao deretan beberapa toko serta restaurant halal. Ditandai dengan penjualnya menggunakan peci putih.

Dalam bhs China Niujie bermakna jalan sapi. Diberi nama sekian lantaran warga di seputar ruang itu jual masakan halal terlebih daging sapi. Bahkan juga mulai sejak Dinasti Qing, pasarnya telah populer dengan berbagai perdagangan daging sapi serta kambing.

Keseluruhan ada seputar 13 ribu warga muslim di lokasi Niujie. Sesudah jalan berpuluh mtr. belum ketemu juga masjidnya. Namun memanglah bangunannya tak seperti masjid jadi mungkin saja telah lewatkan. Saya putuskan untuk ajukan pertanyaan saja. Serta benar telah kelewatan, letaknya ada di seberang jalan.

Berdiri pas di tepi jalan Niujie di Distrik Xuanwu, dari luar masjid Niujie terlihat seperti kelenteng lantaran bangunannya memiliki nuansa khas China. Namun setelah tiba di pintu gerbang bakal merasa beda lantaran ada tulisan ayat Al Quran yang mengisyaratkan bahwa bangunan itu yaitu masjid. Untuk muslim tak diberlakukan ticket untuk masuk masjid. Sedang non muslim mesti membayar ticket seharga 10 Yuan (Rp 21 ribu) serta tak diijinkan menggunakan celana atau rok pendek.

sumber : centroone.com

Masjid Niujie di bangun pada th. 996 pada saat Dinasti Liao. Masjid ini dapat adalah titik awal masuknya Islam di daratan China. Namun sayang masjid itu dihancurkan tentara Mongol pada th. 1215.

Lantas pada saat Dinasti Ming pada th. 1443 masjid itu di bangun kembali. Serta pada th. 1696 pada saat Dinasti Qing masjid itu diperluas. Awalannya masjid itu bernama Libaisi yang didapatkan oleh Kaisar Chenghua pada th. 1474. Namun lantaran letaknya di Niujie, dimaksud Masjid Niujie. Mulai sejak berdirinya RRC pada th. 1949, masjid itu sudah alami 3 kali renovasi di beberapa th. yang tidak sama.

Masjid Niujie memanglah tak seperti bangunan masjid biasanya. Terbagi dalam sebagian bangunan terpisah seperti minaret, tablet pavilion, kamar mandi, moon house serta ruangan beribadah.

Butuh travel juanda malang? silahkan klik tautan ” travel juanda malang “.

Minaretnya juga unik berupa seperti pagoda 2 lantai. Di sinilah Muadzin mengumandangkan adzan tanpa ada mikrophon. Sedang moon house yaitu menara pengamat bln. yang tingginya 10 mtr. yang berperan untuk tahu posisi bln. untuk memastikan saat berpuasa.

Ruangan beribadah terdapat di samping minaret yang berluaskan 600 mtr. persegi serta berkapasitas 1. 000 jamaah. Tentu ruang itu menghadap kiblat serta cuma terbuka untuk muslim saja. Design interiornya bergaya China dengan sentuhan Arab.

Pola dekorasinya sama dengan aula paling utama di Forbidden City yang disebut ciri khas arsitektur Dinasti Qing. Dengan nuansa merah, hijau serta biru. Kaligrafi ayat-ayat Al Quran dalam huruf Arab serta China, lukisan bunga serta hiasan kaca menghiasi ruang itu.

Sedang tablet pavilion yaitu prasasti batu yang menuliskan histori masjid. Di belakang kompleks masjid ada rimba cemara serta 2 buah makam bertuliskan huruf Arab punya 2 orang imam asal Persia yang dahulu berdakwah disini. Yaitu makam Ahmad Burdani th. 1320 serta Ali th. 1283. Tulisan pada makam itu melukiskan terang histori Islam di China.

Tidak merasa sesudah melingkari kompleks masjid yang totalnya berluaskan 6. 000 mtr. persegi itu. Saat magrib juga telah tiba dengan terdengarnya nada adzan dari muadzin yang telah siap. Saya juga bergegas mengambil air wudhu untuk lalu salat. Rasa bersukur saya yang berlipat ganda saya rasakan lantaran dapat melaksanakan ibadah ditambah lagi didalam masjid yang sangatlah bersejarah itu.